October 29, 2008

AKBP Drs Suntana, M.Si, Kapolres Bogor: Agar Masyarakat Cinta Polisi

Medan tugasnya dari Bosnia hingga Papua. Setiap bulan, membeayai anak buah ikut training ESQ.

Tak banyak pemimpin yang dicintai oleh bawahannya. Satu di antaranya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Drs Suntana, M. Si. Meski hanya satu tahun menjadi Kapolresta Tasikmalaya, ia meninggalkan kesan mendalam di hati para stafnya. “Kami merasa kehilangan Bapak,” ujar Iwan, Kepala Biro Rohani Polresta Tasikmalaya. Hal serupa dirasakan Bripda Eni Puji Rahayu, yang bertugas sebagai Polisi Pariwisata. “Bapak berbeda dengan pimpinan sebelumnya,” kata Eni. Mereka memang tak akan lagi dipimpin Suntana, yang sejak 23 Juni menempati pos baru sebagai Kapolres Bogor.

Pengakuan itu tak berlebihan, jika melihat keseharian Suntana dalam menjalankan tugas. Saat ESQ Magazine bertandang ke Polresta Tasikmalaya, kesan ramah, bersahaja, dekat dengan anak buah dan menyenangkan, tampak jelas.

Saat akan dilakukan pemotretan, misalkan, Suntana begitu akrab dengan bawahannya. Canda tawa mengiringi percakapan mereka. Tak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin. “Bapak jadi foto model euy,” kata salah satu stafnya, diiringi tawa rekan-rekannya. Alih-alih marah, Suntana justru balik membanyol. “Malu, ah malu, sudah tua begini masih foto-foto,” ujar suami Jenny Ellya itu.

Sikap bersahaja Suntana boleh jadi yang membuat karirnya melesat. Ia diangkat sebagai Kapolsek Kota Manokwari pada 1991, hanya dua tahun setelah lulus Akademi Kepolisian. Tahun 1992, ia diposisikan sebagai Kasat Intel Polres Jakarta Barat. Setelah itu, selama kurun 1993-1995, Suntana bertugas di Papua, dengan menjadi Kapolsek Oksibil Polres Jayawijaya, Kapolsek Wamena Kota Manokwari dan Kasat Lantas Polres Jayawijaya.

Pada 1998, ayah tiga anak itu menjalani misi kemanusiaan PBB di Bosnia. Setahun kemudian, ia meniti karir sebagai Kapolsek Cilandak Polres Metro Jakarta Selatan. Karirnya terus melesat mulai dari Waka Polres Metro Bekasi hingga Kapolresta Tasik, dan Kapolres Bogor. ”Ini bentuk pengabdian saya kepada masyarakat, bangsa dan negara,” katanya.

Pertengahan Juni 2006, Suntana mengikuti training ESQ Eksekutif bersama puluhan perwira polisi lainnya di Jakarta. ”Saya beruntung bisa ikut,” katanya. ”Apa yang diajarkan ESQ cocok sekali dengan tugas saya di kepolisian.” ESQ, kata pria yang pernah menimba ilmu kepolisian di Jepang, Singapura, Australia dan Belanda itu,”Mengajarkan nilai empati, kasih sayang.” Itu semua, tambah Suntana, sangat bermanfaat dalam menjalankan tugas sebagai polisi.

Suntana menularkan keberuntungannya itu pada jajaran Polresta Tasik. Setiap bulan, ia mengikutsertakan satu hingga dua orang bawahannya dalam training ESQ. ”Saya yang beayai,” ujar Suntana, tanpa bermaksud riya. Ia berharap, nilai-nilai yang diajarkan ESQ antara lain jujur, tanggungjawab, disiplin, peduli, bisa diterapkan jajarannya di lapangan. ”Agar mereka dicintai masyarakat.”

0 komentar: