Berupaya stabilkan karyawan dengan ESQ. Komitmen untuk menempatkan agama di semua aktifitas.
Salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia itu, betempat di bilangan utara Jakarta, tepatnya di bibir laut Tanjung Priok. Namanya PT Dok Kodja Bahari (DKB). Salah satu BUMN itu meretas kinerjanya melalui pembuatan kapal, yang pemesannya berasal dari perusahaan lokal maupun internasional. Dalam perjalanannya yang tak sebentar, berbagai kemajuan sudah diraih PT. DKB.
Dan, atas penilaian pemerintah (PP No. 13 th 1992) bahwa PT. DKB mencapai kemajuan yang cukup mantap, hingga pada 16 Maret 1992, pemerintah mengambil keputusan untuk menggabungkan PT. Dok dan Galangan Kapal Nusantara ke dalam PT. DKB. Hingga kini, PT. DKB merupakan penggabungan dari empat perusahaan: PT. Kodja, PT. Pelita Bahari, PT. Dok dan Perkapalan Tanjung Priok serta PT. Dok dan Galangan Kapal Nusantara.
Namun, sejak krisis moneter pada 1997, PT. DKB mengalami goncangan yang mengakibatkan penurunan kinerja perusahaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pada 2004 pemerintah mengambil kebijakan untuk menggalakkan produk dalam negeri, dan mengutamakan industri nasional. Tak hanya itu, untuk menyehatkan PT. DKB, Menteri Negara BUMN saat itu, Sugiharto, menganjurkan agar para direksi PT. DKB dan minimal satu level di bawah direksi mengikuti training ESQ, sebagai salah satu training pemberdayaan SDM.
Mengikuti anjuran tersebut, pada Juni 2006, Direktur Utama PT DKB, Riry Syeried Jetta —saat itu menjabat direktur keuangan— mengikuti training ESQ Eksekutif Angkatan Ke-49. Riry yang kini menjabat posisi nomer satu di DKB mengatakan, melalui ESQ ia ingin melakukan stabilitas perusahaan. “Di DKB, saya merasa ada beberapa hal yang belum terjadi, suatu sinkronisasi antara keyakinan menjalankan hidup ini dengan tugas yang mereka emban di perusahaan. Padahal, kalau itu sinkron, akan terbuka jalannya. Dan kita harus menempatkan agama dalam semua aktifitas. Itu yang saya dapat di training ESQ.”
PT. DKB sendiri memiliki dua anak perusahaan, yaitu PT. Airin yang bergerak di bidang forwarding dan PT. Kodja Teramarin, bergerak di bidang trading & contractor. Untuk menghadapi posisi sulit yang sedang dihadapi DKB saat ini, Riry memutuskan untuk mentrainingkan seluruh karyawan DKB, termasuk anak perusahaan. “Di awal kepemimpinan, saya justru berkonsentrasi ingin mengembalikan DKB pada situasi di mana kita semua menjalankan perusahaan dengan ikhlas. Cooling down karyawan, itu dulu,” kata Riry.
Kemudian, pada Juli 2008, DKB melakukan kesepakatan dengan ESQ untuk menyelenggarakan pelatihan swagriya dalam beberapa angkatan, dimulai dari angkatan I pada 19-20 Juli 2008.
”Saya sangat menginginkan semua karyawan mengikuti training ESQ,” kata Bandung Bismono, Direktur SDM PT. DKB. Dengan ESQ, kata Bandung, ia berharap bisa menyamakan visi misi karyawan. “Cita-cita saya, mudah-mudahan dengan ESQ itu kita bisa mengikuti alur kerja yang lebih baik, luar dalam, hingga bisa memiliki misi dan visi yang sesuai dengan perusahaan.”
Saat dilaksanakan training angkatan pertama di DKB, Bandung memberi sambutan mewakili Riry, yang saat itu sedang bertugas di Batam. ”Di training ESQ saya hanya bisa menangis. Luar biasa. Ternyata, di dalam fisik saya ini ada sesuatu yang bergetar. Selama ini, kita hanya terkonsentrasi pada pekerjaan,” kata Bandung yang saat itu ia juga tengah mengikuti training ESQ Eksekutif dan menyempatkan diri memberi sambutan di hari pertama pelatihan swagriya DKB.
Soekardjo, SE, Direksi PT. Airin yang waktu itu juga mengirimkan sekitar 40 karyawannya, mengatakan, secara pengetahuan Islam, ESQ itu sudah sampai ke tingkat ma’rifat dan sangat bermanfaat buat masyarakat dan bangsa. ”Kalau jargon di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, tapi di ESQ itu terbalik: Di jiwa yang sehat, timbul semangat dan menjadi kuat,” katanya.
PT. Airin yang memiliki karyawan 120 orang, hampir sepertiganya sudah mengikuti ESQ. ”Mulai dari direksi, komisaris, kepala direksi, dan sebagian karyawan sudah diikutsertakan,” ujar Soekardjo. Selain itu, setelah seluruh karyawan ikut training, juga akan diprogramkan training bersama keluarga mereka. ”Jika di dalam bekerja sudah satu kemauan, satu kehendak, di rumah juga ikut mendukung, insya Allah bisa menyamaratakan visi dan misi karyawan dengan perusahaan. ”
Lebih lanjut Soekardjo mengatakan, terjadi peningkatan kualitas kerja karyawan yang sudah mengikuti ESQ. ”Dalam dua tahun terakhir, alhamdulillah saya melihat seluruh pekerjaan mereka meningkat dengan kualitas baik. Umpama target satu volume pekerjaan yang biasanya dikerjakan satu hari, kini selesai dalam setengah hari. Dan pernah terjadi rekor, target pelaksanaan yang biasa dikerjakan tiga hari tiga malam, selesai dalam 2 hari tiga malam,” ujar alumni Eksekutif ngkatan Ke-57 itu. Sehingga, training ESQ cukup membantu peningkatan kualitas kerja PT. DKB. ”Paling tidak, mereka bekerja dengan kesadaran dan rasa ikhlas, tak ada rasa terpaksa,” tambahnya.
Riry sendiri, setelah komitmennya untuk cooling down karyawan dengan training ESQ, ia juga berkomitmen untuk meminta petunjuk dengan mengikuti umroh ESQ. Maklum, di awal jabatannya, Riry menerima amanah yang berat, dengan kondisi DKB yang sedang tidak stabil. Sepulang umroh, pada Juli lalu, Riry mengaku, ada saja jalan permasalahan yang dibuka. ”Mengenai kebuntuan dengan dua pihak selama bertahun-tahun, perselisihan, semuanya mulai terbuka.” Secara pribadi, Riry mengatakan, ia merasa seperti ada yang memberinya petunjuk. ”Seperti ada yang meng-guide saya, ini jalannya lewat sini. Ya semacam itu. Kini, satu-dua sudah mulai terbuka, meskipun belum rampung,” kata pria berusia 38 tahun itu.
Sumber : ESQ Magazine


0 komentar:
Post a Comment