October 29, 2008

Inovasi Delapan Prinsip


Our mission... Brings tomorrow today
Our vision... World class company
We love... Adira
We love... Adira
We love... Adira
Hanya satu kata... Sukses
Gass poll!

Yel-yel di atas diteriakkan penuh semangat oleh seluruh karyawan Adira setiap acara pagi. Mereka membacakan ”Adira Top” itu diakhiri dengan menyanyikan mars Adira. Dengan itu, diharapkan seluruh karyawan bekerja lebih giat dan menjunjung tinggi budaya Adira.

PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk dibangun dengan kesungguhan tekad untuk menjadi perusahaan terbaik dan tepercaya di sektor pembeayaan konsumen bidang otomotif. Didirikan pada 1990, kini Adira telah menjadi salah satu perusahaan pembeayaan terbesar untuk berbagai merek otomotif di Indonesia berdasarkan pangsa pasar dan jumlah aktiva yang dikelola.
Pada 2004, Adira menerapkan Balanced Scorecard (BSc) dibantu dengan inisiatif TQM (Total Quality Management). TQM yang dilaksanakan setahun sekali itu diadopsi dari Grup Astra yang dibawa oleh pendiri utama Adira, T. P. Rachmat. Hanya saja, TQM Astra lebih diterapkan di bidang manufaktur, sedangkan Adira menangani bidang servis, yakni mengubah orang dalam bekerja. Tujuannya, untuk mendorong proses inovasi dan peningkatan terus-menerus.

Hasilnya, luar biasa. Jumlah karyawan Adira meningkat hampir dua kali lipat (menjadi 10.000 orang lebih) dibandingkan 2003. Penjualan 2004 meningkat 55% menjadi Rp 1,013 trilyun, dan laba naik 93,97% menjadi Rp 301,3 milyar.

Perusahaan yang dinakhodai oleh Stanley Setia Atmadja sebagai direktur utama itu merupakan perusahaan pembeayaan yang memiliki visi, misi dan nilai-nilai tertentu. Visi perusahaan dapat dicapai bila menerapkan misinya. Sedangkan dalam menerapkan misi, perlu perangkat nilai sebagai panduan dalam bertindak (melakukan proses), berpikir dan menyiptakan sumberdaya manusia andal. Bila prinsip dasar itu diikuti, maka akan terbentuk budaya perusahaan yang, Excellence people, thought and process.

Itulah kenapa Adira Top ditetapkan sebagai prinsip dasar atau budaya yang harus dimiliki seluruh jajaran Adira, mulai dari bawah hingga pimpinan puncak. ”Karena yang menentukan people adalah culture-nya seperti apa,” kata Erida Djuhandi, Direktur Operasional Adira. Ditambahkan pula oleh Swandajani Gunadi, General Manager HRD & GA Division Head, ”Tak hanya sekadar ada culture, tapi lebih ke penanaman culture yang bagaimana?”

Lalu, apa saja yang termasuk prinsip-prinsip Adira Top sebagai budaya perusahaan? Ada 8, Yaitu: Advance, Dicipline, Integrity, Reliable, Accountable, Team Work, Obsessed, dan Profesional. Untuk membentuk budaya, hal pertama yang dilakukan adalah membentuk pola pikir agar timbul kesadaran. Setelah itu, bagaimana kita memiliki karyawan yang punya hati untuk melakukan Adira Top itu.

Dari situ, terpikirlah untuk masuk melalui Spiritual Quotient-nya. ”Karena, attitude yang baik berasal dari SQ-nya,” jelas Swan. Atau, istilah yang kerap di gunakan Erida adalah, ”Sentuhlah hatinya, karena SQ adalah pondasinya.”

Pada 2006, Adira coba membuat program pelatihan NLP (Neural Linguistik Programe). Setelah berjalan dua bulan, ternyata karyawan siap diberi pelatihan yang lebih atau masuk ke SQ-nya. ESQ jadi salah satu training yang digulirkan pada lebih dari 1700 orang karyawannya, karena sesuai dengam misi perusahaan untuk menyentuh hati para karyawan.

Ternyata training ESQ memiliki dampak yang baik. Mereka yang ikut, terpanggil untuk memberikan angin segar dan pencerahan pada lingkungan kerja. ”Untuk kembali lagi ke jalur yang benar,” jelas Swan. Terpanggil bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga pada sesama.

Contohnya, seorang supervisor ketika memberikan daily briefing, akan selalu mengingatkan bahwa hidup bukan hanya untuk mencari uang, kerja adalah ibadah. Setelah diberikan pelatihan, hasilnya, karyawan makin bijaksana, senang dan cinta pada perusahaan. Lebih dihargai oleh para pelanggan. Kualitas meningkat dibandingkan kompetitor. Level of fraud (penggelapkan uang) menurun.

Selain itu, indeks audit serta indeks manajemen risiko pun meningkat. Itu semua berkat adanya kerjasama antara pihak Adira dan ESQ. Adira lebih bersemangat dalam menjalankan sistem operasional, terutama dalam penguatan manajemen risiko.
Tahun lalu, manajemen mengumpulkan 4000 orang karyawannya di acara Adikreasi. Ada tanyajawab dan penyaluran aspirasi karyawan. Mayoritas mengatakan, bahwa mereka makin sayang pada Adira. Karena, Adira tak hanya memikirkan bisnis dan uang semata. Tapi juga memikirkan karyawan dari sisi spiritualnya. ”Mereka berterimakasih dikasih kesempatan training ESQ,” ujar Swan.

Karena gema ESQ sedang hangat-hangatnya di lingkungan Adira, manajemen menangkap itu sebagai satu momen untuk membuat AST (Adira Spiritual Training). AST ditujukan bagi 12.000 karyawan Adira, dan mulai digulirkan pada Mei 2008. Itu merupakan cikal bakal dari ESQ, karena orang-orang yang berkecimpung di dalamnya adalah karyawan Adira alumni ESQ.
AST serupa tapi tak sama dengan ESQ Training. Karena, lebih banyak dimasukkan elemen Adira-nya, dengan bahan-bahan materi yang lebih sederhana dan aplikatif di lapangan. Hasil perpaduan dengan prinsip-prinsip Adira Top. ”Itulah kenapa HRD mengembangkan Adira Top sebagai prinsip dasar,” kata Swan, lulusan S1 Agronomi IPB. Ke depannya, perusahaan yang memiliki lebih dari 245 jaringan usaha di seluruh kota di Indonesia itu akan terus menggulirkan training ESQ.

Selain pengembangan sumberdaya manusia, Adira juga memiliki program CSR. Yaitu, Adira Peduli (membantu korban bencana alam), Adira Go Green (penanaman 10.000 pohon), pembuatan rumah sakit di daerah Aceh, donor darah, dan lainnya.

Ada paguyuban yang dinamakan Increso (Inspiring Others to Share Credible in What We Do Solid Team to Serve). Program sosial bagi para karyawan Adira dan mantan karyawan untuk membantu orang sakit yang kurang mampu. Juga melibatkan dealer, pelanggan dan perusahaan lain. Saat ini, juga bekerjasama dalam satu program, ”Uluran Kasih” di TVRI

0 komentar: