October 29, 2008

Inovasi Tiga Sekawan

Di tangan mereka, ponsel tak lagi bersifat konsumtif, tapi juga produktif karena bisa menghasilkan uang. Produknya telah dipasarkan di seluruh Indonesia.

Masih ingat dengan Aramis, Arthos, Porthos? Ketiganya adalah tokoh dalam novel legendaris karya Alexander Dumas, The Three Musketeers, yang setiakawan, gagah dan berani. Mereka tak bisa dipisahkan. Begitu juga dengan Yudha Setiawan, Mahrus Muzammil, dan Mahfud Siddiq. Ketiganya bekerjasama membangun bisnis pulsa elektronik.

Saat Nebula mewawancarai mereka, kekompakan ketiganya terlihat jelas. Secara bergiliran mereka menjawab pertanyaan. Mereka kerap bercanda, melepas tawa. Keakraban itu kian tampak saat sesi pemotretan. Gerak tubuh mereka menunjukkan tak adanya jarak yang memisahkan mereka.

Kisah sukses mereka berawal pada 2004, saat Yudha berjumpa dengan Mahrus yang menawarkan ide cemerlang, yakni membuat gerai pulsa ponsel. “Saya ingin ponsel yang kita miliki tak hanya bersifat konsumtif, tapi produktif,” ungkap Mahrus, menjelaskan gagasannya. Apalagi, lanjut Mahrus, modal yang dibutuhkan tak banyak, dan gerai tersebut bisa diduplikasikan sebanyak-banyaknya.

Ketika itu, Yudha sedang terpuruk, usahanya bangkrut. Uangnya sebesar Rp 1,3 milyar habis, tak tersisa. Seluruh hartanya dijual untuk membayar utang. “Saya dan keluarga numpang tinggal di rumah teman,” ujar kelahiran Surabaya, 12 Desember 1970 itu.

Perjumpaan Yudha dengan Mahrus, teman lamanya, bak pucuk dicinta ulam tiba. Ayah tiga anak itu pun menyambut baik ide Mahrus. Mereka kemudian membuat produk M-pulsa, yang juga menjadi nama gerai, di Jalan Ahmad Yani, Gedung Graha Pena Jawa Pos, lantai delapan, Surabaya.

Hasil kerjasama mereka berbuah manis. Kejelian Yudha dan Mahrus melihat peluang pasar, membuat M-Pulsa berkembang pesat. M-Pulsa banyak diminati masyarakat penggguna ponsel. Tak hanya di Surabaya, melainkan juga di berbagai kota di Indonesia. Mereka kemudian mendirikan Indonesia Mobile System (IMS) di bawah bendera PT My Pulsa Indonesia (MPI) yang khusus melayani distributor seluler. “Ini untuk mengantisipasi jangkauan kami yang terus berkembang luas,” kata Mahrus.

IMS adalah semacam perantara antara authorized dealer dan penjual pulsa. Itu karena tidak semua gerai mampu menyetok barang. Dengan adanya IMS, yang memiliki software pulsa elektrik, maka si empunya gerai cukup bekerjasama dengan pihak multi operator. “Dengan Rp 250.000 sudah bisa menjual semua produk pulsa elektrik,” ujar Yudha, yang lulusan Fakultas Teknik Sipil ITS Surabaya.

Di tengah perjalanan, bergabunglah Mahfud Siddiq, mantan politisi PPP dan PKB. Kehadiran Babeh, demikian pria kelahiran Madura itu biasa disapa, semakin menambah kencang laju roda perusahaan. Mereka layaknya The Three Musketeers.

Kini, tercatat 100 gerai pulsa yang memakai jasa software IMS. Setiap gerai memiliki seribu sampai 10.000 agen pulsa. Pasar yang mereka kuasai meliputi wilayah Jatim, Bali, Jakarta, Jateng, Jogja, Palembang, Makassar dan Samarinda. Untuk agen pulsa, IMS sudah menjangkau seluruh Indonesia.

Karyawan yang bekerja di MPI, perusahaan induk, sudah mencapai 128 orang. Mereka terbagi dalam tujuh unit bisnis. Yaitu, M-Pulsa, IMS, My-Pulsa1, My-Pulsa2, Terminal Pulsa, My7Pulsa dan My Jombang Pulsa. Tiga terakhir baru didirikan pada September 2007.

Agar pelanggan loyal, tiga sekawan itu terus melakukan inovasi. Produk yang mereka hasilkan disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Di antara inovasi yang dilahirkan adalah kecepatan dalam bertransaksi, ketersediaan stok pulsa, pemilihan pemasok yang bagus, dan harga yang berimbang. “Ini cara kami agar terus bertahan,” kata Mahrus lagi.
Selain inovasi, apa rahasia sukses mereka? “Prinsip kami, bisnis yang kami jalankan adalah ibadah,” jawab ketiganya hampir bersamaan. “Ini menjadi salah satu pengabdian kami sebagai manusia ciptaan Allah,” kata Babeh, yang mengaku kapok menjadi politisi.

Tak heran, jika mereka tak menganggap perusahaan yang bergerak di bidang yang sama sebagai pesaing. “Mereka adalah mitra kerja kami,” ujar Mahrus yang sering bolak-balik Surabaya-Madiun.

Visi dan misi bisnis semacam itu, Yudha melanjutkan, salah satunya didapat setelah ia ikut training ESQ. Karenanya, mereka telah mengikutsertakan seluruh karyawannya dalam pelatihan ESQ. “Agar kami memiliki visi yang sama,” kata Mahrus.

Hasilnya pun tak mengecewakan. Berdasarkan pengamatan ketiganya, para karyawan mengalami perubahan yang cukup berarti. “Etos kerja mereka kian tinggi, dan keikhlasan terlihat di wajah mereka,” ujar Yudha, yang diberi amanah sebagai Sekretaris Umum Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Surabaya.

Saat ditanya resep menjaga kekompakan, jawaban ketiganya seragam: ”Kami saling menghargai dan menghormati.”

Sumber : ESQ Magazine

0 komentar: