Bungong jeumpa bungong jeumpa megah di AcehBungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng mejampu mirah
Keumang siulah cidah that rupa
Lam sinar buleun lam sinar buleun angen peu ayon
Ru roh mesuson mesuson, nyang malamala
Nyanyikan lirik di atas dengan segenap hati. Maka seketika, sukma dan jiwa akan terbang menjelma dalam wujud kecintaan, kesedihan. Aceh yang dilanda konflik, Aceh yang ditimpa tsunami, Aceh yang megah seperti Bunga Jeumpa.
Tidak seperti training ESQ lainnya, saat itu, 17 Maret 2006, Muchlis Syamsudin mengawali trainingnya di Lhoksemawe, Aceh, dengan mendendangkan lagu Bungong Jeumpa. Lagu rakyat Aceh itu baru dua hari ia hapalkan, sejak kedatangannya pada 15 Maret. Ia bergidik, tidak bisa tidur, apalagi makan. “Saya ini amat suka dengan masakan laut, namun ketika diajak makan, saya tidak berselera,” kenang pria asal Sulawesi Selatan itu.
Ketegangan Muchlis bukan tanpa sebab. Karena, saat itulah ia baru tahu bahwa 30 orang peserta training yang akan dipandunya adalah para petinggi GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Malam hari itu, Innayati Karim, istri bupati Lhoksemawe, Tarmizi Karim, mengundang Muchlis dan Jabir Ukhsim, rekannya sebagai trainer, untuk makan malam bersama para calon peserta. “Kami tiba di sana dengan disambut sorot mata kecurigaan.”
Seorang calon peserta bertanya kepada tim ESQ, ESQ itu makhluk seperti apa? Jika ada kepalanya, bagaimana kepalanya; dan jika ada ekornya, bagaimana ekornya. Bagi Muchlis, pertanyaan itu terkesan seperti main-main, namun memerlukan jawaban yang sangat serius. “Saya dan Mas Jabir pun menjelaskan perihal ESQ.”
Muchlis berusaha duduk tenang. Sementara, pandangan tamu yang lain seakan-akan menelanjanginya. “Untungnya, Bu Innayati, dan Pak Walid (korda Lhoksemawe) menjadi penengah kami. Mereka menjelaskan kedatangan kami ke Aceh dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah politik NKRI.” Politik memang menjadi isu sensitif bagi masyarakat Aceh. Setelah bertahun-tahun gerakan separatis berupaya memisahkan diri dari NKRI, dan akhirnya pada awal Maret 2006 kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata.
“Yang membuat saya begitu tegang menjadi trainer di Aceh, itu adalah pertama kalinya untuk saya, dan pesertanya adalah anggota GAM.” Muchlis sesungguhnya sudah mengetahui seperti apa kekacauan di bumi Serambi Mekkah itu. Apalagi pemberitaan media massa yang menggambarkan betapa situasi di Aceh sangat menyeramkan. “Terus terang saja, saya sempat terpikir bagaimana jika tiba-tiba saya ditembak,” kata ayah dua anak itu sambil tersenyum.
Selama dua hari menjelang training, Muchlis dihantui rasa takut. “Saya tidak bisa tidur selama itu, karena merasa sangat tegang. Saya merasa ada beban yang beratnya berton-ton yang harus saya pikul.” Ketegangan itu ditambah karena telepon dari Jakarta tidak berhenti-henti ia terima. “Hampir setiap saat telepon saya berdering, memang isinya semua memberi dukungan pada saya.”
Ada kejadian yang membuat mental Muchlis bertambah terpuruk. Ia bukanlah trainer yang diharapkan di sana. “Mereka mengharapkan Pak Ary dan Pak Legisan yang datang. Dan hampir-hampir Pak Legisan pun diberangkatkan untuk menggantikan saya. Belum lagi potongan rambut saya yang cepak mirip tentara. Semua menjadi sangat sensitif dan tidak bisa ditebak.”
Namun, Allah punya kehendak lain. Dari pengamatan singkat diketahui bahwa masyarakat Aceh memiliki kedekatan kultural dan historikal dengan masayarakat Sulawesi Selatan. “Ketika mereka tahu, kami (Muchlis dan Jabir) berasal dari Sulawesi, saya bisa melihat mereka mulai bisa menerima kami.”
Saat itu, Aceh yang dinyatakan sudah steril, masih tegang. “Saat training akan berlangsung, gedung tempat training dijaga oleh sekelompok TNI, di sana juga ada panser,” tutur Jabir, mengenang masa lalu, sambil tersenyum.
Hari pertama training, Muchlis yang sudah kelelahan karena tidak tidur dan makan, bergetar berjalan ke podium. Diambilnya mikrofon. Kakinya serasa berat dan dia tidak mampu berdiri tegak. Ia pun memutuskan untuk duduk tepekur. “Saya teringat pesan Pak Ary, jika ingin memberikan training ESQ di Aceh, jadilah orang Aceh. Nyanyikan lagu Bungong Jeumpa,” Muchlis mengenang dengan berkaca-kaca.
Sang trainer mulai bernyanyi. Suara pria berkulit hitam itu terdengar parau. Ia berjibaku mengalirkan semua lirik dari mulutnya dengan sempurna. Entah mengapa, suasana begitu hening. Muchlis tak bisa menahan air matanya lagi. Ia terisak, dan para peserta pun hanyut. “Sampai-sampai, operator saya pun menangis. Ini adalah luapan perasaan saya: takut, dan berserah diri.”
Muchlis menyadari, Allahlah yang telah menetapkannya menjadi pembuka saat itu. “Beban saya adalah memikirkan training ini. Jika saya gagal membawakan pesan-pesan 165, maka di hari kemudian, saudara-saudara kita di Aceh tidak akan menerima training ini.”
Usai training hari pertama, kecemasan lain lain muncul. Bagaimana jika besok peserta tak mau datang? Kekhawatiran Muchlis sirna di hari kedua. Justru setelah hari kedua, para peserta sudah tidak bisa lagi menahan rasa haru. Airmata tumpah ruah bak hujan lebat. Para peserta saling berpelukan dan meminta maaf. Di hari ketiga, mereka baru menyadari, tidak hanya para anggota GAM yang ikut, tapi juga anggota TNI dan masyarakat sipil.
“Seorang anggota GAM paling berpengaruh, Tengku Abang mengatakan, saat itulah ia baru merasakan persatuan yang sebenarnya,” tutur Muchlis menirukan Tengku Abang.
Bagi Muchlis dan Jabir, training ESQ Eksekutif Aceh adalah yang paling menegangkan namun juga menyenangkan. Menyenangkan karena hasilnya begitu dahsyat, sehingga mampu menarik mantan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood untuk ikut training ESQ Eksekutif di Jakarta, sebulan kemudian. Bahagia, karena rakyat Aceh pun bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dialami alumni yang lain.
Saudara-saudara kita di daerah konflik seperti Aceh, sebenarnya adalah masyarakat yang pintar dan memahami agama. Hanya saja, pendekatan ESQ yang lemah lembut bisa membuat mereka tersentuh dan merasa lebih dekat dengan sifat-sifat kasih sayang Allah.
Sumber : ESQ MAGAZINE

0 komentar:
Post a Comment