November 14, 2008

Ary Ginanjar Agustian: "Periode 700 Tahun Ketiga Milik Indonesia"

Ary Ginanjar dalam sebuah seminar

Bisa jadi, jika ada survey tingkat keyakinan tokoh akan kebangkitan Indonesia pada 2020, Ary Ginanjar menempati posisi teratas. Ya, hampir di setiap kesempatan, penemu ESQ Model itu berbicara tentang ”Indonesia Emas 2020” —istilah yang digunakannya untuk kejayaan Indonesia.

Ary punya alasan kuat. Pertama, secara fisik, bangsa ini memiliki sumber daya manusia dan ekonomi yang melimpah. Jumlah penduduk Indonesia nomor empat terbesar di dunia, di bawah China, Amerika Serikat dan India. Sumber daya alam pun tak kalah meruahnya, mulai darat hingga laut. ”Tinggal bagaimana kita mengelola itu semua,” kata penerima gelar doktor honoris kausa bidang pendidikan karakter dari Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Kedua, Ary bercermin dari rotasi sejarah lahirnya peradaban besar. Pada 2008 ini, bangsa Indonesia memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Ary teringat akan sebuah hadits yang berisikan bahwa di setiap 100 tahun peradaban manusia, akan lahir pembaharuan. ”Saya yakin, 100 tahun ini, pembaharuan lahir di Indonesia.”

Menariknya, kata Ary, fenomena itu berimpitan dengan pergiliran lahirnya peradaban besar, baik di Indonesia maupun dunia. Pada 700 tahun pertama atau abad ke-7 hingga ke-14, Islam meraih puncak kejayaan. Itu dimulai dengan perjuangan Nabi Muhammad saw membangun pondasi peradaban, dimulai di Mekkah sampai Madinah. Pondasi yang diletakkan Nabi Terakhir itu, kemudian diteruskan oleh para pengikutnya hingga Islam meraih masa keemasan. Islam menguasai Eropa dan dunia.
Fenonena itu berbarengan dengan kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 dan Majapahit pada abad ke-14. Kedua kerajaan besar Nusantara itu, menjadi legenda kegemilangan Indonesia di masa lampau.

Pada 700 tahun ketiga, atau abad ke-14 hingga ke-21, semua prestasi emas itu hanya tinggal cerita. Indonesia terpuruk. Umat Islam tertunduk. Tak ada lagi kisah membanggakan. Dalam periode ini, dunia Barat—dengan Amerika Serikat sebagai ikonnya—menguasai peradaban.

Di era kinilah, ujar Ary, momentum kebangkitan itu harus direbut oleh Indonesia. ”Periode 700 tahun ketiga harus, dan akan menjadi milik Indonesia,” kata Ary penuh semangat. Karena itulah, Ary menceburkan diri secara total dalam bidang keahliannya, yakni sumber daya manusa (SDM). Sejak 2001, ia menyelenggarakan training ESQ yang hingga kini alumninya telah mencapai 500.000 lebih, tersebar di Indonesia, dan mancanegara.

Ary yakin, kunci utama untuk meraih kejayaan bangsa, harus dimulai dari perbaikan SDM. ”Bangsa kita harus menjadi bangsa yang bermoral,” katanya. Lalu, apa dan bagaimana Indoensia Emas 2020 bisa terwujud? Berikut petikan wawancara wartawan ESQ Magazine Karyati Niken Sugesti dengan Ary Ginanjar, 22 Juli, di Cisarua, Bogor.

Dalam bayangan Anda, seperti apa Indonesia Emas 2020?

Sesungguhnya Indonesia 2020 adalah terwujudnya bangsa yang bermoral. Yang menjunjung tinggi Tujuh Budi Utama: jujur, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, peduli. Kita percaya, krisis moral yang ada di Indonesia ini karena pelanggaran terhadap tujuh nilai moral tadi. Padahal, bangsa kita sangat kaya sumber daya alam. Mulai dari daratan, pertaniannya, kesuburan tanahnya, keindahan alamnya, sumber mineral, kelautan.

Pertanyaannya, kenapa kita tidak sejahtera? Karena, masyarakat tidak jujur, tidak tanggungjawab, tidak punya visi ke depan, dan sebagainya. Kalau semua unsur ini diterapkan di setiap bidang, di setiap profesi, pemerintahan atau swasta, maka kebangkitan ekonomi akan terjadi. Karena, tidak akan berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada jiwanya. Itulah tujuh masalah moral yang harus diperbaiki dengan Tujuh Budi Utama. Sehingga, 2020 sesungguhnya adalah awal dari kebangkitan moral bangsa Indonesia. Indonesia 2020 adalah ketika kita sudah menjadikan tujuh nilai moral tadi sebagai karakter bangsa, diagungkan dan dimuliakan menjadi perilaku. Jika sudah ditegakkan, kesejahteraan dan keadilan akan meningkat.

Bagaimana cara mewujudkannya?

Salah satunya dengan menyeleng­garakan training ESQ. Itulah kenapa kami mengajarkan training ESQ dari Sabang sampai Merauke, kepada para guru, pemerintahan, polisi, penegak hukum. Kalau mereka menegakkan Tujuh Budi Utama, diyakini bangsa ini akan keluar dari krisis. Semua unsur di masyarakat turut berperan. Selama ini, masyarakat menempatkan keutamaan itu pada sisi materi, jabatan dan kekuasaan, sehingga menomorduakan kejujuran, keadilan. Kita harus balik keadaan ini. Kebanggaan itu mau kita geser. Bukan kebanggaan pada fisik, tapi bangga akan nilai-nilai moral.

Sayangnya, itu tidak diajarkan dalam pendidikan kita.
Sistem pendidikan yang ada sekarang harus dievaluasi. Karena, pendidikan yang saat ini berjalan, gagal secara keseluruhan. Karena menekankan aspek intelektual, kognitif, sehingga mengabaikan nilai-nalai moralitas. Anak-anak saat ini tidak dididik Tujuh Budi Utama. Mereka, sepertinya diizinkan untuk menyontek. Yang penting dapat IP bagus, juara, ranking. Kepada mereka tidak ditekankan bahwa jujur itu nilai utama, sebaliknya malah IP yang diutamakan. Kalau pendidikan seperti ini, maka akan melahirkan anak-anak yang demikian. Padahal, mereka adalah calon pemimpin bangsa. Ketika mereka menjadi pemimpin, maka yang terjadi adalah merajalelanya korupsi. Tak usah heran jika anggaran negara kita bisa bocor hingga 30%.

Artinya, Indonesia Emas 2020 ada­lah ketika korupsi tak lagi marak di Indonesia?

Ya, itu salah satu gambarannya. Pada 2020 itu, korupsi sudah sangat sedikit. Orang takut korupsi bukan karena hukum, tapi karena sadar. Seperti di Jepang, bukan karena UU yang tegas tapi karena orang Jepang sudah menjadikan jujur sebagai keutamaan nilai moral, tangggungjawab sebagai etos kerja, disiplin jadi keseharian. Sudah jadi budaya, bukan karena perintah atasan. Itu adalah output dari perubahan moral. Bayangkan jika seluruh aparat jujur, tanggungjawab melaksanakan tugas-tugasnya, semua bidang melakasanakan seperti itu, kekayaan alam akan terkelola dengan baik, bangsa ini kesejahteraannya meningkat, sumber daya alam akan dikelola dengan baik.

Anda punya strategi untuk itu?

Tak ada yang sulit dilakukan jika kita punya kemauan. There is a will there is a way. Kita harus punya strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Harus ada komitmen bersama dan menempatkan tanggungjawab terhadap nilai-nilai moral di atas kepentingan yang lain. Ini pekerjaan yang nampak sederhana, tapi sebenarnya pekerjaan besar. Dan ESQ tidak mau menjadi penonton. Kita harus memulainya, tanpa perlu menunggu orang lain melakukannya.

Apa yang telah ESQ kerjakan?

Kita bekerja, setiap bulan, dan meng­hasilkan 20.000 alumni per bulannya. Target kita, semua aparat harus mengikuti training ESQ, baik di lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Kita juga punya target dalm bidang sosial dan pendidikan, yakni satu juta guru harus menjadi alumni ESQ pada 2020 nanti. Kalau mereka sudah menjalankan keutamaan budi utama, bangsa ini akan bangkit. Kita akan terus bekerja hingga Indonesia Emas 2020 tercapai.

Apa program setelah training ESQ?

Kami tak hanya berhenti pada saat training ESQ. Setelah pelatihan, kami terus bekerja. Kami memiliki berbagai program kerja, antara lain SOS (Satu Orang Satu) di mana satu alumni ESQ harus memiliki satu anak asuh. Kami juga membangun ekonomi untuk masyarakat menengah bawah melalui program Lentera 165, dan lainnya.

Dikutip dari ESQ MAGAZINE
http://esqmagazine.com

0 komentar: