“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan):’ “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” (QS 6: 63)
Alam. Lingkungan. Dua kata itu adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita, namun terkadang kita tidak sadar akan keberadaannya. Kehidupan modern membuat kita berpikiran antroposentris—berfokus hanya pada kepentingan dan keperluan manusia. Padahal, alam dan lingkungan adalah juga makhluk Allah yang harus dijaga. Tertutupnya suara hati membuat manusia acap memandang makhluk selain dirinya dengan sebelah mata, dan bertindak semaunya. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan alam.
Antroposentrisme adalah sebuah pandangan-dunia yang berfokus pada manusia. Aliran ini sangat lekat dalam dunia modern, dan sudah dirintis sejak Socrates mendengung-dengungkan slogan: ”Kenali dirimu.” Aliran yang kemudian dikukuhkan oleh pemikiran rasionalisme Descartes itu menyatakan bahwa manusia adalah pusat, dan ini berarti organisme lainnya — binatang, tumbuhan, mahkluk hidup lainnya, yang berjumlah milyaran -- diabaikan.
Kepedulian terhadap lingkungan hanya bersifat instrumental. Karena, hanya bernilai sejauh memberikan kepentingan dan kebaikan bagi manusia. Karena itu, antroposentrisme tidak mempertimbangkan spesies lain, dan sebenarnya juga bersifat “egoisme spesies,” “chauvinisme spesies,” dan “instrumentalisme.”
Pandangan-dunia antroposentrisme harus diperluas. Organisme lain harus dianggap juga sebagai moral patients, harus dihargai sebagai stakeholder dalam menentukan tindakan moral. Pendekatan ekologis (alam) dan kosmologis (alam semesta) juga diperlukan. Etika lingkungan, misalnya, menjunjung tinggi penghormatan kepada lingkungan alam, sebagai bagian dari “tetangga” manusia, dan kesadaran untuk menghindari pencemaran lingkungan dan pengurasan sumber daya alam.
Sesungguhnya, sebagaimana Surat Asy Syams yang sering dilantunkan pada pelatihan ESQ, semua makhlukNya, adalah satu kesatuan, untuk bertawaf memutari garis orbit yang sudah ditetapkan. Semua bersujud, dengan suara hati sebagai barometer bagi manusia.
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari pada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS 22: 18)
Oleh karena manusia, khalifah di Bumi ini, berpikir disharmoni dan ke luar dari garis orbit, maka terjadilah musibah yang kita sebut bencana alam. Memang, ada bencana yang tidak ada peran manusia di dalamnya, seperti gempa bumi, angin topan, tsunami, dan gunung berapi. Tapi, tidak sedikit bencana yang terjadi karena ulah manusia sendiri.
“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS 4: 79)
Alam beserta komponennya, seperti hujan, gunung, angin, lautan, dan pepohonan seyogianya rahmat dari Tuhan untuk manusia. Begitu banyak penjelasan di Al-Qur’an yang mengungkap hal itu.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS 14: 32)
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS 16: 15)
Apa yang bisa dipetik dari ayat-ayat yang tersurat di atas? Pertama, alam sebenarnya bersahabat kepada kita dan diciptakan untuk menunjang fungsi kekhalifahan manusia dalam mengelola kehidupan di bumi. Dan bahwa kita diperintahkan untuk berpikir tentang alam, tentang makna di balik penciptaan dan fenomena sunnatullah. Sebagai pembelajaran.
“Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (ni’mat).” (QS 25: 50)
“Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS 45: 5).
Sesungguhnya, kalau kita bisa berkaca pada sejarah peradaban, begitu banyak bencana yang sudah melanda dunia sejak dulu. Banjir besar ditimpakan pada umat Nabi Nuh, suara yang menggemuruh dialami umat Nabi Syu’aib, dan tanah longsor dahsyat melanda umat Luth.
Tidak sedikit Tuhan mengibaratkan suatu persoalan dengan alam sebagai kiasannya.
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS 10: 24)
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS 7:57)
Kedua, kalau kita perhatikan setiap ujung ayat, akan ada pesan tauhid dan semangat untuk memaknai ayat-ayat yang tersirat, yaitu ayat Qauniah berupa alam semesta. Dalam pelatihan ESQ, banyak bertebaran penafsiran yang mengupas tentang men-tadabburi ayat yang tersirat dan tersurat. Dan dalam penutupan Temu Alumni dan Rakernas ESQ II di Bukittinggi bulan lalu, Ary Ginanjar dengan sangat baik memaknai Ngarai Sianok sebagai ayat-ayat suci.
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 27: 88)
Ternyata, ilmu pengetahuan modern membuktikan hal itu. “Perjalanan gunung bak awan” kini dikenal dengan continental drift—istilah yang digunakan pertama kali pada National Geographic Society, Powers of Nature 1978.
Ternyata, kerak bumi seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Harun Yahya menyatakan, pada awal abad ke-20, ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener menyatakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Pada 1915, ia menyatakan bahwa sekitar 500 juta tahun lalu, seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan itu terletak di Kutub Selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian, yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa itu adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan itu, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea, bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus, sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa itu juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Para geolog baru memahami penemuan itu 50 tahun setelah kematian Wegener, yaitu 1980. teknologi abad ke-20 mampu mengukur pergerakan benua yang berjalan dengan kecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan.
Itulah salah satu contoh belajar dari alam. Sebuah upaya agar menambah tebal keyakinan tauhid, dan agar kita lebih memahami lingkungan, hingga bisa menjaga keteraturan hukum alam.
Sejumlah bencana telah terjadi. Hikmah apa yang kita petik? Kembali ke garis orbit. Menjaga keseimbangan alam. Berbagai bencana, termasuk banjir besar yang melanda Jakarta, hendaklah menjadi otokritik bagi kita semua, untuk evaluasi diri. Itu adalah sebuah momentum untuk mencari dan memperbaiki penyebabnya, yaitu diri kita sendiri. Suara hati harus diikuti, untuk selaras dengan lingkungan.
“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS 7: 168).
Tentu saja, bencana itu semua adalah kehendak dan cobaan Allah bagi orang yang beriman.
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS 8: 25)
Semoga kita semua lulus dari segala ujian cobaan.
“Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ’Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku’; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (QS 11: 10)
Semoga Indonesia mampu kembali ke garis orbit dan bangkit dari krisis setelah belajar dari berbagai bencana ini. Sebagaimana metafora ayat di bawah ini:
“Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (QS 35: 9).
Sumber : ESQ MAGAZINE


0 komentar:
Post a Comment