November 4, 2008

Berharap Nabawi di Kuningan


Umroh tadinya sekadar untuk jalan-jalan. Ingin sekali ia bisa tinggal di Madinah.

Reza bangkit dari tidurnya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berpikir untuk pergi umroh. Padahal, sejak ia ikut training ESQ, belum ada tanda-tanda perubahan yang signifikan dalam dirinya. “Masih sedikit bandel, dan sering pulang malam,” katanya. Empat hari training pun diisi dengan kesibukan menerima telepon dari para kolega dan pegawainya. Maklumlah, ia harus mengurus beberapa toko miliknya di ITC Kuningan.

Uang tabungannya sudah cukup. Reza pun mendaftar di ESQ Tours, sebagai peserta Umroh Mahasiswa Angkatan Ke-17. Tak ada persiapan apa pun. Membaca buku-buku panduan haji atau umroh pun tidak. Ia hanya memohon ampun dan petunjuk pada Allah. “Serta ikhlas saja,” katanya penuh keyakinan.

Perjalanan menuju Mekkah dilalui tanpa hambatan. Tiba di Madinah, Reza mengaku kaget sekali. Pasalnya, ketika azan, semua orang berbondong-bondong menutup tokonya dan menuju masjid. “Saya takjub sekali,” kata lulusan terbaik LP3I 2000 itu. Yang ada dalam pikirannya saat itu, perbedaan yang mencolok sekali dengan kondisi di Indonesia. Di Jakarta--tempatnya berdagang—belum pernah ia melihat orang langsung menutup tokonya kala azan memanggil.

Sasaran para jamaah adalah solat di Raudah, salah satu tempat mustajab. Menurut Reza, bagi teman-temannya yang sudah tahu Raudah, mereka segera berebut untuk mendapatkan shaf paling depan. Selesai solat magrib, teman-temannya akan menunggu waktu isya sambil membaca Al-Qur’an. Sedangkan Reza, pergi berbelanja setelah solat magrib. “Niat awal, karena mau liburan aja,” katanya sambil tersenyum.

Mendengar cerita teman-temannya di tempat penginapan, ia merasa ingin tahu apa itu Raudah. Setelah diberitahu oleh Zuli H. Tampo, salah satu pembimbingnya, Reza bertekad ingin solat subuh di sana. Tapi, niatnya itu belum kesampaian. Hanya solat dhuha yang bisa dilakukannya di Raudah. Doa pun dipanjatkan. Ingin sekali ia bisa tinggal di Madinah. “Meninggal di sini pun saya mau,” katanya.

Sebelum miqat di Mekkah, ia bingung memakai jam. Jam yang baru dibelinya, atau jam lamanya. Ia tahu, sebenarnya tidak diperbolehkan memakai perhiasaan saat mengambil miqat. Ia pun berkonsultasi pada pembimbingnya, yang menyarankan agar berhati-hati memakainya, khawatir akan hilang karena banyak orang.

Saat mengambil wudhu, ia meletakkan jamnya di atas batu tempat pancuran air. Selesai solat, ia baru menyadari jamnya tidak ada. Ketika dicari ke tempat wudhu, jam itu sudah tidak ada di sana. Bisa jadi, itulah teguran dari Allah. “Saya ikhlaskan saja jam itu,” katanya.

Hari pertama di Mekkah, ia masih santai-santai menjalankan umrohnya. Sementara teman-temannya sudah memiliki banyak pengalaman mengenai Hajar Aswad. Mendengar cerita teman-temannya, kembali ia tidak terima. “Masa gue nggak punya cerita,” katanya sambil tertawa.

Jadilah Reza mati-matian coba mencium Hajar Aswad. Berkali-kali ia coba mencium, tiba-tiba saja badannya mental ke belakang. Seharian ia mencoba, tidak juga berhasil. Akhirnya, ia tanya pada temannya, bagaimana caranya? Temannya bilang, agar Reza solat tahajud dulu dan jangan sombong. Reza pun mengikuti saran temannya.

Alhamdulillah, dengan sikap zero dan doa Robbana Aatina Fiddunya Hasanah, Reza berhasil mencium Hajar Aswad. Ia pun lalu sujud syukur. Keesokan harinya, ia ingin mencoba kembali, namun Allah tidak mengizinkan. “Mungkin bagi Allah, sudah cukup,” katanya.

Sekembalinya ke Indonesia, sedikit demi sedikit sikapnya mulai berubah. Misalnya, ketika azan berkumandang, karyawan di tokonya harus segera menunaikan ibadah solat. Walaupun, itu dilakukan secara bergantian. Jika tidak solat, mereka akan ditegur olehnya.

Satu hal yang sangat diinginkannya: berdiri “Masjid Nabawi” di daerah Kuningan. Tepatnya, di tanah kosong depan ITC Kuningan. “Insya Allah, 2020 ada Masjid Nabawi di Kuningan,” katanya. “Pusat bisnis Islam juga ada di sini,” katanya penuh optimisme.

सुम्बेर : Eसक Magazine

0 komentar: