Rumah rata dengan tanah. Perabotan hancur. Suami dan anak meninggal dunia. Ia tetap tegar dan melanjutkan skripsinya yang tertunda.
Delapan bulan silam, gempa di Jogja dan Jawa Tengah terjadi. Menyisakan banyak kepiluan. Meninggalkan bekas mendalam. Tiga ribu lebih jiwa melayang. Manusia-manusia rapuh tanpa harapan bertebaran di sana. Mulai dari anak-anak hingga ke usia uzur. Setiap hari, tatapan mereka kosong. Pikiran melayang ke masa lalu. Bahkan, ada yang tidak kuat, lalu bunuh diri. Tanggal 27 Mei 2006 yang mengenaskan.
Siti Solehah, warga Patalan, Jetis, Bantul, salah satu korban gempa 5,9 Skala Richter. Rumah beserta isinya hancur, rata dengan tanah. Suami dan anak bungsunya, Fatwa, tewas. Ia kini hidup dengan Meiwan Fadli, anak sulung, yang kala kejadian sedang berolahraga di luar rumah.
Di hari Sabtu kelabu itu, Siti sedang memasak di dapur. Suaminya membaca koran di ruang tamu. Di sebelah sang suami, Fatwa tiduran di kursi. Tak ada yang menyangka, itu adalah momen kebersamaan mereka yang terakhir.
“Saat itu, saya baru saja masuk ke kamar mandi. Fatwa beradu cepat mandi dengan saya. Begitu saya masuk, tiba-tiba ada getaran dahsyat. Dinding kamar mandi roboh, dan saya langsung lompat keluar. Saya melihat seluruh rumah di sekitar saya juga roboh,” tutur ibu berusia setengah abad itu.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan menit, semuanya musnah. Ia segera meminta pertolongan. Namun, semua orang sibuk dengan rumah masing-masing. Akhirnya, ia berusaha untuk mencari sendiri anak dan suaminya. Apa daya, peralatan untuk membersihkan reruntuhan tidak ada.
Beberapa menit kemudian, Fadhli datang sembari menangis. Melihat itu, Siti tidak bisa berkata-kata. Suaranya berhenti di kerongkongan. Ia terlihat begitu tabah. Saudaranya ditelepon satu persatu. “Baru pada pukul empat sore, bantuan berdatangan. Saya dapat menemukan suami dan Fatwa di balik reruntuhan tersebut. Suami saya dalam posisi mendekap Fatwa,” ungkap istri dari almarhum H. Suharman itu.
Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Piyungan, Bantul, itu selalu berusaha membesarkan hati Fadhli. Kata-kata penyemangat selalu keluar dari mulut Siti agar anaknya terus melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN)
Siti sendiri tidak lama bergelut dalam kesedihan. Tesisnya, Psikologi Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang sempat terhenti karena gempa, kembali ia kerjakan. ”Saya kuliah lagi, meski hati belum tertata. ESQ juga menjadi salah satu penyembuh hati saya,” kata anak terakhir dari tujuh bersaudara itu.
Harapannya kepada pemerintah adalah, secepatnya memberikan bantuan kepada masyarakat yang terkena bencana.


0 komentar:
Post a Comment