Sepasang ondel-ondel dan belasan pemain tanjidor, musik khas Betawi tampak meriah mengiringi delman yang menyusuri lingkungan Markas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jakarta. Di dalamnya tampak Firman Gani dan Adang Firman beserta istri masing-masing. Di tengah meriahnya suasana itu, sejumlah polisi wanita nampak menangis haru.
Hari itu, Rabu 21 Juni 2006 Firman Gani menyerahkan jabatannya sebagai Kapolda Metro Jaya kepada Adang Firman. Ia pun bersiap mengemban tugas selanjutnya: Kepala Sekolah Pimpinan Polisi Republik Indonesia. Sebelum jabatan yang saat ini didudukinya, Deputi Bidang Pengembangan Dewan Ketahanan Nasional.
Karir putra dari H. Harun Gani dan Siti Rohani itu bermula sejak 33 tahun lalu. Saat itu —dengan pangkat letnan dua Polisi— Firman menjalankan tugas sebagai Komandan Peleton di Brigade Mobil. Dua tahun kemudian ia menjabat sebagai Komandan Kompi Brimob Polda Metro Jaya selama tujuh tahun, sebelum diangkat menjadi Komandan Satuan Brimob Polda Kalimantan Barat.
Sebelum menjadi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, pria berdarah Lampung-Makassar ini sempat menjabat Komandan Korps Brigade Mobil (1999), Kapolda Maluku (2000), Kapolda Sulawesi Selatan (2001) dan Kapolda Jawa Timur (2003). Polisi yang kini berpangkat Inspektur Jenderal itu sempat mendapat tugas pendidikan kepolisian di luar negeri: Antara lain kursus Lantas di Swedia dan kursus Brimob negara-negara ASEAN.
Karena perjalan karir itulah kemudian Firman berhasil memperoleh tanda jasa: Satyalencana Kesetiaan Delapan tahun, Satyalencana Kesetiaan 16 tahun, Satyalencana Dwidya Sistha dan Commander In de Orde Van Oranye Nassav.
Anak seorang kiai yang juga prajurit Angkatan Darat itu tak tahu betul apakah kedua orangtuanya memang menginginkannya menjadi seorang perwira negara. Namun ada sebuah nasihat sang ayah yang sangat melekat diingatannya. “Ada pekerjaan yang bagus menurut agama, yaitu petani, guru dan dokter. Namun ada pula pekerjaan yang “diwanti-wanti” oleh agama: menyimpan uang dan menegakkan hukum,” ujarnya.
Firman menyadari, bahwa memang bukanlah hal yang mudah untuk menegakkan hukum dan keadilan. Namun semua itu tak lantas membuatnya mundur. Karena baginya, pekerjaan polisi adalah pekerjaan yang penuh dinamika. Modus kejahatan yang selalu berkembang di negeri ini, menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya untuk berjuang memberantasnya.
Setelah menjalani tugas selama bertahun-tahun, suami dari Fifi Syarifah itu menyadari, bahwa pekerjaan polisi juga memiliki godaan yang amat besar. “Kalau tidak kuat iman, justru kita yang akan terjebak ke dalamnya,” aku Firman. Ibarat sebuah keris, tugas sebagai seorang polisi mengharuskan ia tidak bisa lurus, namun tak boleh pula menjadi bengkok. Dibutuhkan taktik untuk ’bergaul’ dengan penjahat, sebagai upaya memberantas kejahatan. Hal itu pula yang ia katakan kepada anak bungsunya, yang saat ini mengikuti jejaknya, menjadi seorang polisi.
Upaya menegakkan keadilan dan mengupayakan kedamaian di Maluku pada tahun 2000-2001, memiliki kesan tersendiri di hati Firman. Gejolak akibat konflik bernuansa SARA yang terjadi di wilayah tersebut, membuatnya harus menjalankan tugas di luar kebiasaan. “Saya berupaya melakukan pendekatan terlebih dahulu ke masing-masing pihak, berbagi dengan mereka hingga mendapat kepercayaan,” ujarnya. Setelah merasa cukup mendapat kepercayaan, barulah Firman menjalankan penegakan hukum di wilayah tersebut.
Firman mengakui, bukan hal yang mudah baginya untuk dapat menegakkan keadilan di negeri ini. Ia menyadari, keadilan yang hakiki hanyalah milik Tuhan. “Tapi kita dapat mengusahakannya.” ujarnya. Untuk itu dibutuhkan upaya bagi para polisi agar dapat menyadari hal tersebut.
Dikutip dari ESQ MAGAZINE
http://esqmagazine/com


0 komentar:
Post a Comment