Kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 itu dikenal sebagai polisi jujur. Kasus yang paling fenomenal, saat lulusan pertama Akademi Kepolisian (1952) itu membongkar kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi Robby Tjahyadi atau Sie Tjie It.
Penyelundupan tersebut dideteksi polisi pada 1969. Pada September 1971, Hoegeng mengumumkan kepada masyarakat tentang keberhasilannya membekuk penyelundupan mobil mewah lewat Pelabuhan Tanjung Priok. Mobil-mobil itu dimasukkan dengan perlindungan tentara, dan dilaporkan Ibu Tien terlibat pula.
Bukan pujian yang didapatnya, melainkan pemecatan dirinya sebagai Kepala Polri. Sebelum itu, Hoegeng mendapat tawaran untuk menjabat sebagai Duta Besar di Belgia melalui Menhankam Jenderal M. Panggabean.
Dalam buku yang ditulis Ramadhan KH, diceritakan Hoegeng dipanggil Soeharto. “Lho bagaimana Mas, mengenai soal Dubes itu?” tanya Soeharto. “Saya tak bersedia jadi dubes, Pak. Tapi, tugas apa pun di Indonesia, akan saya terima.” Presiden bilang, “Di Indonesia tak ada lagi lowongan, Mas Hoegeng.” Saya pun langsung nyeletuk, “Kalau begitu, saya keluar saja.” Mendengar itu, ia diam. Saya juga diam. Mau ngomong apa lagi? Setelah kurang lebih setengah jam pertemuan, saya pun pamit.
Kejujuran yang dijunjung tinggi, membuat Hoegeng berani pada siapa pun. Pernah, saat memimpin operasi antikebut-kebutan di sekitar Taman Soerapati, awal 1970-an, Hoegeng berkata kepada anak buahnya: “Tangkap saja anak-anak muda yang nakal itu! Kalau bapaknya sok ikut campur, nanti saya yang akan hadapi sendiri!”
Jauh sebelum itu, kejujuran mantan Menteri Negara Urusan Iuran dalam Kabinet Seratus Menteri itu diuji saat ditempatkan di Sumatera Utara. Ketika itu, ia diangkat sebagai Kepala Reserse dan Kriminal di Medan, yang terkenal sebagai tempat pedagang Tionghoa yang punya hobi menyuap pejabat. Namun, Hoegeng tak bisa disuap. Rayuan wanita cantik, dunia judi, korupsi, tak kuasa menjebol benteng kejujurannya.
“Dia teladan,” ucap Ali Sadikin singkat mengomentari sosok kapolri yang pertama kali menganjurkan pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor itu. Komentar senada dilontarkan tokoh hak asasi manusia Dr Adnan Buyung Nasution. “Dia seorang yang berjuang tanpa pamrih. Perbuatannya patut diteladani.”
Rabu, 14 Juli 2004, Hoegeng meninggal dunia, dan dimakamkan di Parung, Bogor. Apakah kini hanya tinggal polisi tidur yang tak bisa disuap?
Sumber : ESQ MAGAZINE


0 komentar:
Post a Comment