November 4, 2008

Klemen Tinal: Bangun Mimika dengan Cinta


Pernah menjadi salah satu bupati termuda di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, semua warga Kabupaten Mimika menjadi saudara. Tak ada istilah pendatang dan pribumi. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Lelaki berkulit gelap itu mengangkat tangannya saat menyambut kedatangan Nebula. Tatapan matanya bersinar ramah, dan bibirnya senantiasa tersenyum. Sama sekali tak terlihat keinginan dirinya untuk bersikap beda. Padahal, di Kabupaten Mimika, ia adalah seorang tokoh terkemuka. ”Tidak apa-apa, saya biasa seperti ini, saudaraku. Memang harus begini kalau kita mengaku sebagai saudara,” katanya.

Siapa gerangan lelaki Papua nan ramah itu? Ia tak lain adalah Klemen Tinal. Saat diangkat menjadi bupati di Kabupaten Mimika pada 2001, Klemen baru saja memasuki usia 31. ”Karena saya merasa masih muda, maka saya pikir saya masih banyak tenaga,” katanya diiringi derai tawa.

Kini, ia baru setahun mengakhiri jabatannya sebagai Bupati Mimika. Kendati demikian, Klemen menyatakan akan kembali mencalonkan diri pada Pilkada April mendatang. Alasannya, sebagai seorang yang lahir dan besar di Mimika, ia merasa ada pengabdian yang belum selesai dilakukannya untuk tanah tercinta. ”Saya ingin maksimal memajukan Mimika,” ujar suami dari Yolanda Tinal itu.

Klemen melihat Mimika adalah sebuah kabupaten yang memiliki corak kehidupan sosial budaya yang sangat unik. Di kawasan itu, hampir semua etnik yang ada di Indonesia ada. ”Mimika itu ibaratnya miniatur Indonesia,” ujar lelaki kelahiran Mimika pada 23 Agustus 1970 itu.

Selama ini, Papua dikenal memiliki tingkat kerawanan luar biasa dalam soal konflik antarsuku. Namun, justru karena latar belakang tersebut, Klemen ingin membuktikan bahwa dengan banyaknya etnik, Mimika bisa mencapai kebhinekatunggalikaan. ”Kami sangat yakin bisa membangun Mimika. Tentunya lewat sebuah kerjasama antara suku dan golongan di sini.”

Apalagi kalau dilihat dari segi pem­berdayaan ekonomi, Klemen melihat Mimika memiliki posisi strategis di Papua. Itu dibuktikan dengan peran Mimika sebagai kabupaten yang menyangga ke­hidupan 8 kabupaten di sekitarnya. ”Dengan status sebagai pusat jasa dan industri, posisi kami memang menjadi sangat menentukan,” ujarnya.

Klemen sangat yakin, jika Mimika terus dikelola secara baik, maka kualitas hidup masyarakatnya akan lebih baik. Karena itu, ia sudah membuat ancang-ancang sejak menjadi bupati bahwa pada 2009, Mimika harus mencapai target swasembada beras. ”Masalah perumahan, listrik dan air bersih, juga akan menjadi prioritas kami nanti.”

Banyak hal yang dilakukan Klemen saat menjadi Bupati Mimika. Yang pertama, ia menjalankan perampingan birokrasi dengan diikuti oleh pembangunan sum­ber daya manusia. Itu penting, meng­ingat sebagai sebuah kabupaten baru —Mimika adalah pecahan dari Kabupaten Fakfak— kawasan itu harus menyesuaikan pembangunan dengan dana yang ada.

Padahal, anggaran dana daerah saat itu hanya Rp 157 milyar. Otomatis de­ngan jumlah itu, Klemen harus taktis dan menghemat. Itu penting mengingat ia harus membangun 12 kecamatan yang jaraknya sangat berjauhan. ”Untuk menyiasati ini, selain restrukturisasi, kami juga membuat prioritas dan strategi untuk jangka waktu 25 tahun ke depan.”

Klemen pun membuat kebijakan agar masyarakat menjadi subyek pembangunan. Apa yang berhubungan dengan kemajuan daerah, itu harus mutlak melibatkan me­reka. ”Kami ini berlaku hanya sebagai fasilitator dan stimulator semata,” ka­ta lulusan Manajemen Universitas Cendrawasih Jayapura itu.

Tidak aneh, dengan kebijakan par­tisipasi aktif itu, rakyat Mimika berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Kebutuhan dasar hampir semua terpenuhi. Masalah pendidikan, misalnya. Di Mimika, setiap kampung sekarang telah memiliki sekolah dasar. Sedang untuk bidang kesehatan, kini rakyat Mimika telah menikmati fasilitas Puskesmas Pembantu (Pustu).

Soal lain yang menurut Klemen bisa dijadikan aset untuk membangun Mimika adalah keragaman suku. Ia percaya, de­ngan keragaman itu, alih-alih terjadi konflik, Mimika justru bisa menjadi sebuah kawasan yang menjadi contoh kehidupan toleransi. Apalagi, saat ini, dari jumlah 220.000 jiwa warganya, hampir setengahnya adalah pendatang dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

”Kami sangat sadar, jika ada perbedaan sedikit saja dalam hal perlakuan, maka akibat yang terjadi akan fatal,” katanya.

Karena itu, Klemen bertekad, jika ia kembali terpilih pada Pilkada mendatang, ia akan memberlakukan kebijakan tanpa pandang bulu. Artinya, selama seseorang tinggal dan hidup di Mimika, dari mana pun asalnya, dia adalah warga Mimika. ”Kami akan menjadikan semua warga Timika bersaudara,” katanya.

Ada sebuah keyakinan dalam diri Klemen bahwa, selama pemerintahannya dijalankan atas dasar cinta, maka kehar­monisan tentu saja akan tercipta. ”Untuk soal ini, terus terang saya banyak belajar dari ESQ,” ungkap alumni Profesional Swagriya II Freeport itu, sembari tertawa.

Sumber : ESQ MAGAZINE

0 komentar: