Omzetnya naik seribu persen. Nasabah koperasi niaga syariahnya empat ribu orang lebih. Cabangnya di mana-mana.
Apa jadinya jika suatu usaha dikelola oleh seorang wiraswastawan sejati? Hasilnya, hanya dalam tempo satu tahun, sebuah lembaga jasa permodalan mikro-menengah di Makassar berhasil meningkatkan omzet perusahaan lebih dari seribu persen!
Dialah HA Baso Abdullah, pengusaha bertangan-dingin itu. Melalui Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Dana Niaga Syari’ah yang didirikannya pada 1 Juli 2006, A Baso mampu meraup dana sebesar Rp 40 milyar lebih, dari modal awal yang hanya Rp 4 milyar.
Dana segar tersebut merupakan “bagi hasil” dari usaha jasa permodalan sejenis yang pernah ditekuninya bekerja sama dengan sahabatnya, Ir H Mubyl Handaling. Selain itu, ia juga mendapat bantuan modal dari Lembaga Permodalan Nasional Madani dan Bank Muamalat. Amanah dari lembaga-lembaga keuangan itu berhasil dikembangkannya dengan baik hingga usahanya pun dalam waktu singkat mendapat kepercayaan dari masyarakat.
“Kami hanya mencari selisih dari modal yang dipercayakan kepada kami,” kata A Baso seraya menjelaskan bagaimana mendapatkan laba dengan selisih yang dimaksudkannya. “Kami tentu saja ingin mencari keuntungan, tetapi yang lebih penting bagi kami adalah memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk bermitra dalam mengembangkan usaha mereka,” ujarnya menambahkan.
Menurut A Baso, banyak anggota masyarakat yang kesulitan mendapatkan modal usaha dari lembaga-lembaga perbankan, karena terlalu prosedural. Celah itulah yang dimanfaatkannya. Tak heran jika nasabah koperasinya terus bertambah, dan hingga sekarang sudah mencapai angka 4.000-an orang. Umumnya, mereka para pengusaha mikro (kecil dan menengah) dengan sistem pembayaran fleksibel: harian, mingguan, bulanan, dengan margin keuntungan tak lebih dari lima persen. Dana yang digulirkannya kepada masyarakat mencapai Rp 5 milyar sampai Rp 10 milyar setiap bulannya. Tapi, untuk menjaga amanah dari lembaga yang memberi modal, KSP hanya memberikan pinjaman modal untuk usaha produktif yang sifatnya syar’i (halal).
Saat ini KSP Dana Niaga Syari’ah sudah memiliki dua belas cabang yang tersebar di berbagai daerah potensial, baik di Sulawesi-Selatan maupun daerah lainnya. Di Jakarta terdapat tiga cabang, yaitu di Klender, Tanjung Priok dan di bilangan Percetakan Negara, Salemba. Satu cabang juga ada di Bogor, Jawa Barat. Total karyawannya mencapai 250 orang.
Selama menjalankan usahanya, A Baso mengaku tak mempunyai kiat-kiat khusus. “Normal saja, tidak ada yang istimewa. Apa yang dilakukan orang lain, itu juga yang saya lakukan,” ungkap Alumni ESQ Eskekutif Angkatan ke-47 itu. “Saya hanya berpesan kepada seluruh karyawan untuk bekerja dengan penuh kejujuran dan keikhlasan, sebab itulah modal yang paling berharga,” katanya.
A Baso, dilahirkan di Makassar pada 10 April 1962. Ia menghabiskan masa kecilnya di salah satu desa di Kabupaten Sengkang. Di kampung orang tuanya itulah, ia dipelihara oleh Acok Nasir, pamannya, sejak ibunya berpulang ke rahmatullah ketika usianya 12 tahun. Bagi A Baso kecil, sang paman adalah ayah kedua. Maklum, saat usia tiga tahun, ia dan ibunya ditinggal sang ayah merantau entah ke mana sampai sekarang.
Selama tinggal bersama pamannya, A Baso belajar berdagang. Mula-mula ia hanya membantu sang paman mengelola usaha jasa pengangkutan dan jual beli beras. Seiring berjalannya waktu, bakat usaha A Baso semakin berkembang. Ketika ia bersekolah di salah satu SLTA di Makassar, pamannya mendirikan perusahaan kontraktor yang diberi nama CV Rahmat. Ia pun semakin sibuk. Pasalnya, selain aktif sekolah, ia juga makin dipercaya sang paman mengelola perusahaan, apalagi usaha dagang beras antarkota tetap dijalankan. “Setiap hari sepulang sekolah, saya biasa mengantar beras ke pedagang pengecer di beberapa pasar di Makassar,” kenang ayah seorang putri dan dua putra itu.
Pengalaman hidup kurang beruntung yang dialaminya sejak kecil hingga remaja itu tak pernah dilupakannya. Karena itu, meski kini sudah terbilang sukses, ia tetap ingat dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Itu diwujudkannya dalam bentuk membantu modal usaha, menciptakan lapangan kerja, serta bentuk kepedulian sosial lainnya. “Kami, para direksi dan segenap karyawan, sudah membudayakan membayar zakat penghasilan setiap bulan. Dana zakat yang terkumpul lalu kami salurkan kepada keluarga karyawan dan nasabah yang membutuhkan, baik dalam bentuk beasiswa sekolah maupun bantuan akibat bencana alam,” ungkap A Baso yang juga Komisaris Utama BPR Dana Niaga Mandiri itu, tanpa kesan ingin pamer.
Bentuk kepedulian dan perhatian lain kepada karyawannya adalah dengan mengirimkan mereka pada pelatihan ESQ secara bertahap. Hingga saat ini, sekitar dua puluh lima persen dari mereka sudah alumni ESQ.
Sumber : ESQ Magazine


0 komentar:
Post a Comment