
Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, kini Aceh tengah berjalan menuju perdamaian total. Dengan penuh gairah, orang-orang di Tanah Rencong kembali memulai hidupnya dari awal. Sementara pembangunan terus dilakukan, silaturahim terus dirajut. Termasuk lewat ESQ, yang beberapa waktu lalu sempat mengadakan training di sana. Apa yang dilakukan oleh orang-orang di Aceh untuk mengisi perdamaian itu? Ikuti laporan koresponden Nebula di Aceh, Ibrahim Tengku Langkat.
Saat terjadi konflik bersenjata di Aceh, hutan di kawasan gunung Bener Meriah selalu menjadi ajang kontak senjata antara TNI dengan pihak GAM. Akibat sering terjadinya pertempuran itu, tak sedikit darah tertumpah di sana. Karena itu, wajar jika tempat tersebut kemudian ditakuti banyak orang.
Tapi, itu dulu. Sekarang, hampir tiap hari sekitar 500 orang mendatangi kawasan yang memiliki luas 4.000 hektare itu. Mereka tak lain adalah para anggota KUD Teladan. Itu adalah nama koperasi yang dikelola oleh warga Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara bekerjasama dengan mantan anggota GAM. ”Kami menjadikan kawasan itu sebagai lahan penanaman kelapa sawit dan palawija,” ujar Tengku Muhammad, 45 tahun, salah satu anggota KUD Teladan dari Desa Pulo Meuria.
Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Geureudong Pase bisa jadi merupakan cermin gairah Aceh secara keseluruhan. Pasca penandatanganan kesepakatan damai di Helsinki, berbagai aktivitas mulai berjalan normal. Rute Medan-Banda Aceh, kembali ramai, pasar-pasar mulai bisa menjajakan kebutuhan masyarakat sehari-hari, dan pembangunan dilakukan hampir di seluruh Aceh.
Itu tentunya berbeda dengan situasi yang terjadi sebelum 2005. Kala itu, di Aceh hampir tiap hari terdengar suara letusan bom rakitan dan rentetan tembakan senjata mesin. Anggota TNI/Polri dan GAM serta warga masyarakat, tewas bergelimpangan. Sejumlah ibu kota kabupaten dan kecamatan di Aceh pada umumnya tidak berfungsi, dan para pengusaha tidak lagi berani membuka usahanya di Aceh.
Wajar, jika kemudian banyak orang bersyukur dengan kembalinya perdamaian di Aceh. Muzakir Manaf, mantan Panglima Tertinggi GAM, menyatakan bahwa terjadinya perdamaian di Aceh merupakan sebuah rahmat Allah yang tak ternilai harganya. ”Jika dulu kami saling kejar, sekarang kami bisa duduk berdampingan saat membangun Aceh,” ujar Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) itu.
Karena itu, lanjut Muzakir, ia tak henti-hentinya menyerukan kepada masyarakat Aceh, khususnya kepada para anggota KPA lainnya, untuk mempertahankan suasana damai ini. ”Kami harus menepati janji,” katanya. (Lihat: Apa Kata Tokoh Daerah?)
Senada dengan Muzakir Manaf, H. Husaini Setiawan mengatakan rasa gembiranya perdamaian bisa terwujud di Aceh. Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Lhokseumawe itu, adanya suasana damai jelas akan berimbas kepada situasi ekonomi yang lebih baik di kawasan Serambi Mekkah itu. ”Beberapa investor dari Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia sudah mulai survei ke sini,” kata pimpinan beberapa perusahaan di Aceh itu.
Datangnya investor ke Aceh merupakan suatu hal yang memberi pengaruh besar terhadap kemajuan ekonomi warganya. Terutama dalam hal memenuhi sektor pekerjaan. Sekadar informasi, di Tanah Rencong, saat ini masih terdapat ribuan anak muda yang belum memiliki pekerjaan. Inilah yang, menurut Muzakir Manaf, jika tidak tertangani secara baik, akan menggangu proses perdamaian di Aceh.
Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni pulihnya rasa persaudaraan. Jika dahulu saat konflik berlangsung, hubungan antara warga dipenuhi rasa curiga, maka saat perdamaian bersenandung, semua kecurigaan itu luruh seketika. ”Apalagi saat itu, kalau mau berkunjung ke sanak saudara, sangatlah sulit,” tutur Nurasiah, salah seorang warga Pase.
Suasana persaudaraan itu pula yang terpancar kuat saat ESQ mengadakan training perdana di Aceh pada Maret 2006. Sekitar 300-an peserta yang terdiri dari anggota GAM, pegawai Pemda dan masayarakat umum, larut dalam indahnya persaudaraan.
Semoga perdamaian yang tercipta saat ini tetap bersenandung di Aceh. Hingga suatu saat ini menjadi salah satu pengantar menuju suatu Indonesia Emas. Semoga.
Sumber : ESQ MAGAZINE

0 komentar:
Post a Comment