December 28, 2008

Linda Puteh: Peduli Agar tidak Merugi


Memberikan pelatihan ESQ kepada sekitar 2.000 orang narapidana. Disangka komplotan GAM.

Perempuan paruh baya itu tak lagi gundah. Dalam sekejap, keberaniannya membuncah. Rasa ciut membayangkan regu tembak selama ini, lenyap sudah. Tampaknya, ia telah siap lahir-batin menghadapi eksekusi mati. Kapan pun itu dilaksanakan. “Saya siap mati sekarang. Dan saya tak takut lagi. Terimakasih, Tuhan. Terimakasih ESQ. Terimakasih Bu Haji Linda,” kata salah seorang penghuni Lapas Wanita Tangerang, yang tak mau disebut namanya.
Perubahan sikap secara drastis seperti di atas, tidak hanya dialami perempuan tersebut. Setidaknya, lebih dari dari 2.000 orang yang menghuni empat lapas besar di Pulau Jawa —Sukamiskin di Bandung, Pondok Bambu di Jakarta, Lapas Wanita di Tangerang, dan Lapas Kebon Sari di Malang— mengalami hal serupa. Penyebabnya adalah keikutsertaan mereka dalam pelatihan ESQ Peduli Lapas.
Penggagas pelatihan itu adalah Dra. Marlinda Irwanti, SE, M.Si, atau biasa disebut Linda. Ia adalah alumni ESQ Eksekutif Angkatan ke-42 Jakarta. Hatinya tergerak tatkala mengunjungi penjara Sukamiskin, Bandung. “Saya kasihan melihat para napi. Tak hanya di dunia mereka merana. Secara agama pun, nampaknya mereka lemah. Saya tak tega melihat mereka merugi di dunia dan akhirat. Dan inilah alasan kenapa saya tergerak untuk memberikan mereka sedikit bekal menghadapi akhirat kelak, yakni sebuah pelatihan. Dan ESQ saya rasa tepat untuk itu,” kata perempuan kelahiran Yogyakarta, 16 Oktober 1964 itu.
Niat itu, disambut sumringah oleh tim dari ESQ Leadership Center. Pekerjaan pun dimulai. Semua perlengkapan dan perizinan langsung diurus. Dan akhirnya, pada awal 2007, pelatihan pertama terselenggara. Empat ratus narapidana menjadi peserta. Ikut pula para sipir penjara. Linda terlibat penuh di dalam pelaksanaan pelatihan tersebut. Malah, biaya konsumsi para peserta ditanggung olehnya.
Pasca pelatihan ESQ di empat lapas besar tersebut, Linda mengaku sangat gembira melihat perubahan yang terjadi pada diri masing-masing napi. “Suami saya mengatakan, di Sukamiskin, para napi banyak berubah. Mereka menjadi lebih sopan, alim dan ramah. Masjid kini selalu penuh. Rata-rata sudah hapal Asmaul Husna, dan lantunannya sering terdengar dari balik jeruji. Malah, sipirnya pun sudah tak galak lagi. Pokoknya, berubah deh,” tutur istri dari mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh, itu.
Untuk sebuah kepedulian, ibu dari dua anak itu memang tergolong militan. Sampai-sampai, nyawa pun ia pertaruhkan. Mau bukti? Pada September 2003, di Tanah Rencong, perempuan yang selalu berpuasa pada Senin dan Kamis sejak kelas satu SMP itu, tanpa resah, mau berkunjung ke wilayah Bireuen. Lima jam perjalanan menggunakan mobil dari kota Banda Aceh. Niatnya adalah membantu janda-janda miskin di pelosok-pelosok kampung. Mulai dari pengobatan gratis, sembako gratis dan pelatihan keterampilan gratis.
Namun, di tengah perjalanan, iring-iringan itu diserang oleh sipil bersenjata yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tak pelak, desingan peluru berseliweran di sekitarnya. Belum lagi granat yang memekakkan telinga. “Saya tiarap. Suami saya juga. Kami pasrah. Saya berdoa sejadi-jadinya. Teman-teman lain pun demikian. Beruntung, kami selamat. Orang-orang itu tunggang-langgang. Polisi dan tentara yang mengawal kami luar biasa,” kata dosen sekaligus ketua jurusan Public Relation di Stikom Interstudy, Jakarta itu.
Melalui sebuah yayasan sosial yang ia bentuk sendiri, Yayasan Peduli Anak Bangsa “Nur Raudha,” Linda berkarya habis-habisan di Aceh. Banyak kegiatan membantu orang ia lakoni. Setiap tahun, mulai dari 2000 sampai 2004, Yayasan itu melakukan operasi bibir sumbing cuma-cuma. Saban tahun, 300 orang menjadi pasien mereka. Dokter yang mengoperasi didatangkan secara khusus dari Jakarta.
Kemudian, masih melalui yayasan tersebut, lulusan Fakultas Ekonomi Menejemen, Universitas Islam Indonesia dan jurusan Hubungan Internasional UGM itu membuat satu program pintar, yakni memberi modal bergulir kepada janda-janda di sana. Namun, sebelum diberi modal, para janda tersebut diberi bekal keterampilan untuk memulai satu usaha.
“Misalnya, menjahit. Kami ajari mereka menjahit selama dua atau tiga bulan, lalu kami beri mereka benang. Setelah dirasa mampu, baru kami lepas. Beberapa minggu kemudian, kami datangi lagi. Jalan apa tidak, usahanya? Kalau tidak, kami yang kasih order. Misalnya, membuat tas, topi, baju dan lain-lain. Banyak lho, yang berhasil dari program itu! Saya sampai pernah dituduh terlibat GAM. Karena keaktifan saya membantu rakyat,” kata mantan penyiar TVRI itu.
Selain menjahit, anak sulung dari lima bersaudara itu juga menyediakan duit dan gerobak bagi orang yang mau menjual gorengan atau bakso. Bahkan bagi pedagang sayur di pasar-pasar, Linda memberikan sepeda yang dilengkapi tempat barang di belakangnya yang terbuat dari papan. Nah, untuk membuat peti-peti tersebut, ia juga memercayakannya kepada rakyat tak mampu. Program-program sosial seperti itu, menurut Linda mampu menjangkau ribuan rakyat Aceh.
Kini, anak dari Prof.DR Bambang Purnomo, guru besar Hukum Pidana di UGM, Yogyakarta itu tengah menyusun satu program khusus yang akan ditayangkan di TVRI. Namun sayang, ia belum mau membeberkan program tersebut. Tapi yang pasti, program itu masih berkutat di bidang kepedulian.

0 komentar: