October 21, 2008

PERAN ESQ DALAM PENDIDIKAN KARAKETER


Setelah di The Asia Congress HRD 2008, Ary Ginanjar kembali dipercaya menyampaikan gagasannya dalam pembangunan SDM. Kali ini, dalam seminar pendidikan karakter di Universitas Negeri Yogyakarta, pekan lalu.

Sekitar 200 orang memenuhi ruang Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka adalah civitas akademika UNY. Mulai dari rektor, direktur, dekan, dosen dan mahasiswa Strata 2 (S2). Terdapat juga tamu dari berbagai universitas di Yogyakarta dan sekitarnya. Hari itu, Selasa, 29 Juli, mereka mengikuti seminar bertemakan Restrukturisasi Pendidikan Karakter. Pembicaranya: Ary Ginanjar Agustian, pimpinan ESQ Leadership Center.

Menurut Rektor UNY Prof Sugeng Mardiyono, acara itu sebagai upaya untuk restrukturisasi pendidikan karakter yang telah dijadikan sebagai bagian dari kurikulum perkuliahan di UNY sejak 1997. ”Mohon ini, tidak hanya tambah pengetahuan, tapi juga diamalkan,” pesan Sugeng.

Ary Ginanjar menyampaikan gagasannya tentang pendidikan karakter dalam makalah yang berjudul Pembentukan Habit Menerapkan Nilai-Nilai Religius, Sosial, dan Akademik. Penemu ESQ Model itu memaparkan tujuh krisis yang tengah dialami bangsa ini. Yaitu hilangnya kejujuran, hilangnya rasa tanggung jawab, tidak berpikir jauh ke depan (visioner), rendahnya disiplin, krisis kerjasama, krisis keadilan, dan krisis kepedulian. ”Yang lebih berbahaya bukanlah perubahan iklim, melainkan perubahan manusia menjadi homo homini lupus, yang ironisnya terus dikonsumsi oleh manusia,” ujar Ary.

Akar permasalahan dari krisis bangsa ini, menurut Ary, bersumber pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan itu berkaitan dengan dunia pendidikan. ”Pendidikan yang saya maksud di sini adalah pendidikan secara menyeluruh, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah,” kata Ary.

Karakter bangsa, kata Ary, tidak bisa diubah apabila tidak dimulai dengan mengubah karakter dalam diri pribadi. Caranya, dengan mengubah mindset, kemudian mengubah believes (keyakinan) yang selanjutnya diwujudkan dengan mengubah behaviours (perilaku). Untuk mencapai itu, Ary mengajak agar bangsa ini mengamalkan nilai-nilai moralitas: jujur, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. ”Kami menamakan ini sebagai tujuh Budi Utama,” ujar penerima doktor honoris kausa bidang pendidikan karakter dari UNY itu.

Sumber : Koran Republika

0 komentar: