
Kepala BPSDM Dephumkam, Mulki Manrapi mengadakan training ESQ bagi taruna-taruninya dari Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) dan Akademi Imigrasi (AIM). Mulki ingin agar tidak ada kekerasan di sekolah kedinasan yang dipimpinnya.
“Kita bertekad di tempat ini tidak akan ada kekerasan, karena kalian masuk ke sini untuk dididik bukan untuk disuruh-suruh apalagi dipukuli,” ungkap Mulki saat memberi sambutan penutup In House Training (IHT) ESQ angkatan ke-2 bagi taruna-taruni Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) dan Akademi Imigrasi (AIM) pada Rabu sore (17/2), di Auditorium Kehakiman, Cinere, Jawa Barat.
Mulki mengatakan, training ESQ menjadi benteng agar anak didiknya tahu mana hal yang baik dan buruk. Jika iman dan takwa anak didiknya meningkat, maka mereka tidak akan mudah tergoda oleh godaan-godaan yang tidak baik.
“Training ESQ sangat-sangat diperlukan bagi taruna-taruni Akip-Aim, kalian mesti bersyukur karena dari 5.000 pendaftar hanya 130 orang yang diterima,” ujar alumni ESQ Eksekutif 2008. Training ini merupakan pelaksanaan dari kerja sama antara Departemen Hukum dan HAM dengan ESQ Leadership Center (ESQ LC).
“Semoga dengan training ini siswa Akip akan menularkan nilai-nilai yang mereka dapat kepada penghuni lapas, sehingga lapas dapat diwarnai dengan tujuh budi utama. Sedangkan untuk siswa Aim dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan yang berlaku,” ungkap Muhammad Zain Firadaus, trainer IHT Akip-Aim angkatan II. Training ini dipandu oleh Muhammad Zain Firdaus serta Deny Kurniawan.
Zain menyambut gembira diadakannya training ini, karena para siswa telah tahu tujuan bekerja mereka sesungguhnya pengabdian kepada Tuhan. “ESQ itu sendiri mengisi nilai-nilai emotional serta spiritual mereka, karena intelektual telah mereka dapatkan di tempat ini,” ujarnya.
Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) dan Akademi Imigrasi (AIM) merupakan akademi yang berada di bawah naungan Departemen Kehakiman RI. Sekolah dinas ini diharapkan mampu membina dan mendidik para narapidana di lembaga-lembaga pemasyarakatan dan rumah-rumah tahanan negara, serta dapat mengatasi hal-hal keimigrasian.
Metode pendidikannya dibagi empat. Ada program pendidikan akademis (untuk membentuk kemampuan akademis dan analitis), teknis/profesi (untuk meningkatkan ketrampilan sebagai abdi negara, masyarakat, hukum, dan keadilan), kepribadian (untuk membentuk kedewasaan dan watak kepemimpinan), dan jasmani (agar tangguh dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab).
Selain menerima kuliah, mahasiswa juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan ko-kurikuler: olahraga (sepak bola, pencak silat, kempo), seni budaya, paduan suara, teater, marching band, paskibraka, pramuka.
(www.esqmagazine.com)
0 komentar:
Post a Comment